Jumat, 14 Desember 2012

TUGAS MATA KULIAH MINERALOGI DAN PETROLOGI




Pendahuluan :
Penentuan tata nama batuan sedimen klastik didasarkan oleh dimensi butiran, dimana ukuran butir sangat mnentukan dalam penamaan batuannya, misalnya ukuran batuan sedimen mud , maka nama batuannya ialah mudstone, sedangkan untuk batuan dengan ukuran sand diberi nama sandstone. Ukuran sedimen gravel maka ditentukan  maka ditentukan oleh kebundaran butiran, brecia untuk kebundaran batuan yang berjenis angular dan batuan konglomerat untuk batuan yang butirnya memiliki  bentuk pembundaran rounded. Pada dasarnya prinsip penamaan batuan harus mengacu kepada suatu klasifikasi, agar penamaannya menjadi standar dalam deskripsi dan penentuan nama batuan. Misalnya penamaan batuan berdasarkan kenampakan teksturalnya dan berdasarkan kepada komposisi butirannya maupun dengan kombinasi keduanya.
Contoh penamaan batuan seperti sandstone karena ukuran batuannya sand. Calcirudit, karena berukuran gravel dengan kompusisi penyusunyya adalah bahan carbonat dari calcite. Dan arkose dengan ukuran butir sandstone dan didominasi komposisi kuarsa dan feldspar.

Soal 1 :
Apa yang signifikan dalam penentuan tata nama pada “rudaceous rock” dari sisi teksturalnya dan komposisinya.
Jawab :
     Rudaceus rock merupakan batuan berkomposisi sedimen sedikitnya berkisar pada 25 % dari total volume batuan itu sendiri, dan batuan tersebt tersusun oleh partikel yang ukuran butirannya lebih besar dari 2 mm. jenis batuan ini berupa konglomerat ( disusun oleh partikel rounded ), diamictites ( disusun oleh partikel yang rounded dan angular ) dan breccias/ breksi ( disusun oleh partikel yang angular ).
Dari segi teksturalnya, penamaan batuan pada rudaceus rock ini didasarkan pada ukuran butiran(partikel) penyusun batuan tersebut, misalnya grain-supported cgluntuk konglomerat, dan mud-suppoerted cgl untuk diamictites ( peably mudstone ). Bentuk pembundaran yang dimiliki oleh batuan digunakan untuk pnggolongan kelas batuan itu sendiri.
Berikut penjelasan mengenai jenis batuan rudaceus rock :
Konglomerat
Konglomerat merupakan batuan sedimen yang diendapkan dalam permeabilitas tinggi, namun rongga pori yang besar tersebut sangat mudah terisi oleh matriks. Berdasarkan pada komposisi yang dimilikinya konglomerat dikelompokkan pada Agglomerates ( vulcani-clastic ), Calcirudites ( Carbonates ), silicirudites ( terrigenous ).
Diamictites
Diamictites atau ada juga yang menyebutnya dengan nama peably mudstone, batuan ini terbentuk karena adanya mudflow pada lingkungan subaerial enviro dan underwater, namun terkadang terbentuk juga pada lingkungan glacial.
Breccias
Merupakan batuan sedimen yang  memiliki derjat pembundaran angular cobbles. Batuan ini terbentuk secara tektonik dan proses sedimen. Batuan ini terbentuk pada lingkungan asalnya ( very proximal environtment ) dimana sediemen yang akan terkompaksi belum mengalami erosi, abrasi dan pembundaran.

Soal 2 :
Pada sandstone apa yang menjadi perbedan mendasar hingga dapat di klasifikasikan menjadi “Arenitas” dan “ Wackes” pada klasifikasi Dott ( Gilbert)
Jawab :
Arenit merupakan jenis batu pasir yang terbentuk dari pasir hasil transportasi dan pengendapan oleh agen transportasi ( angin, air, es, dan angen transportasi sediman lainnya ) yang pemilahan sedimennya terjadi dengan baik, yang memisahkan lumpur dan lanau sehingga menyisakan butiran butiran pasir (Raymond, 2002). Selama proses ini terjadi, sedimen berbutir halus disapu keluar dan akan terpisah dengan sedimen yang memiliki ukuran butir lebih kasar, sementara sedimen yang kasar tidak ditransportasikan lagi dan akan diendapkan pada depositional site. Arenit juga dapat berkembang dimana terjadi pelapukan, transportasi,dan diagenesis yang menghilangkan butiran halus dan melarutkan komponen yang mudah larut sehingga hanya meyisakan dan mengendapkan yang berukuran kasar.
Kebanyakan arenit bertekstur epiklastik, equigranular, atau equigeranular mosaic. Berbagai jenis material semen dan matrik dapat mengikat butiran, tapi butiran juga dapat saling terikat melalui mekanisme saling mengunci (interlocking) yang kemudian menghasilkan rekrstalisasi pada bidang kontak antar butiran selama proses diagenesis terjadi.
Hal yang paling mecolok dari arenit adalah jenis arenit yang murni arenit kuarsa, yangmana memiliki butiran lain selain kuarsa dengan porsi yang sangat sangat sedikit. Pasir kuarsa murni ini berkembang dari hasil (1) extensive working dari sedimen pada source terrane yang mengandung banyak kuarsa, (2) reworking dari material sebelumnya yang tersortasi baik, dan merupakan mature sand, (3) deep weathering dari batuan kaya kuarsa di wource terrane, atau (4) kombinasi dari proses proses ini
Berikut ini adalah  skema klasifikasi batu pasir arenit berdasarkan komposisinya menurut Dott (1962 dalam Guilbert 1982) batupasir dapat dikatakan berada dalam golongan arenite jika matriknya kurang dari 5%.
Sedangkan batuan pasir yang tergolong pada kelompok Wacke dapat hadir di lingkungan kontinental, lingkungan transisi, dan lingkungan marin. Pada lingkungan kontinental dapat terbentuk pada alluvial fan deposite, di fluvial channel dan pada floodplains, dan lacustrine delta. Pada Lingkungan transisi yang mana wacke ini dapat juga berkembang pada esturarin, delta, dan pada tidal flat-strandline type. Pada lingkungan marine, wakce mungkin dapat terbentuk pada shelf, tapi juga pada slope (laut dalam) melalui arus contourite dan bassin plain turbidite (endapan turbidit tergolong memiliki banyak wacke).
Ciri batupasir ini biasanya sangat kompak karena umumnya umur tua dan telah mengalami deep burial diagenesis. Karakterisitiknya dicirikan oleh kaya matrik (pasir halus, lanau, dan lempung) sebagai matrik dalam klasifikasikan yang disampaikan Dott (1962 dalam Guilbert 1982) mengandung matrik yang besarnya >5% ketika telah sementaasi dan terlitifikasi maka akan terbentuk lebih kompak.
Secara tekstural batupasir ini tidak matang  karena banyak lempungnya. dan karena banyak lempung diperkirakan memiliki derjat pemilahan yang buruk. Maka  kemungkinan tempat kehadiran batupasir ini di alam sekitar laut dalam (daerah trench), kontinental shelves (stable continental crust), hingga lingkungan turbidite (laut dalam). berikut ini skema pengklasifikasian batuan pasir jenis wacke menurut Dott (1962 dalam Guilbert 1982) batupasir dikatakan arenite jika matriknya kurang dari 5%.
Soal 3 :
Pada batuan yang komposisinya 50% lebih merupakan mud, maka lunggaerd-samuels(Folk) membuat klasifikasi enam jenis batuan. Jelaskan!
Jawab :
Dari klasifikasi  Lunggaerd-Samuels ( Folk ) yang batuan sedimen yang terbentuk memiliki komposisi utama dimana >50% merupakan tersusun atas  mud. Berikut ini enam klasifikasinya menurut lunggaerd-samuels(Folk)   :
·         Laminated- siltstone yakni sedimen mengandung   lebih dari 50 % mud yang berlaminasi  dan ukuran butirnya dominan silt
·         Laminated- mudshale yakni sedimen mengandung  lebih dari 50 % mud yang berlaminasi  dan ukuran butirnya clay dan silt
·         Laminated- clayshale yakni sedimen mengandung   lebih dari 50 % mud yang berlaminasi  dan ukuran butirnya dominan clay
·         Non-laminated-siltstone yakni sedimen mengandung lebih dari 50 % mud yang tidak berlaminasi dan ukuran butirnya dominan silt
·         Non-laminated-mudstone yakni sedimen mengandung lebih dari 50 % mud yang tidak berlaminasi dan ukuran butirnya clay dan silt
·         Non-laminated-claystone yakni sedimen mengandung lebih dari 50 % mud yang tidak berlaminasi dan ukuran butirnya dominan clay

Soal 4 :
Apa Persamaan dan perbedaan pada batuan yang disebut “ diamictite”  dan “pebbly mudstone”
Jawab :
Persamaan antara “ diamictite “ dan  “ pebbly mudstone “ adalah kedua jenis batuan ini terbentuk pada lingkungan yang sama yaitu pada lingkungan subaerial enviro dan underwater (sering diesebut Fluxoturbidites). Selain itu, kedua batuan ini mengalami transportasi yang sama taitu melalui tranportasi glacial (es). Dan kedua batuan ini tergolong kepada batuan rudaceus, karena memiliki ukuran butir > 2 mm.
     Sedangkan perbedaan “ diamictite “ dan  “ pebbly mudstone “  perbandingan fragmen dengan supported Matrixnya. Pada batuan “ diamictite “ perbandingan gravel atau fragmennya lebih banyak ketimbang massa dasar (matrix) mudnya dan untuk batuan  “ pebbly mudstone “  , matrix mudnya lebih mendominasi atau dengan kata lain  jumlah gravel atau fragmennya lebih sedikit.

Soal 5 :
Pada klasifikasi Gravel – sand – mud, diperoleh nama batuan sandy conglomerat, berikan deskripsi dari batuan ini.

Jawab :
kita bisa mendeskripsikan keadaan sandy conglomerate. Diamana dalam table tersebut dapat diketahui bahwa sandy conglomerat mengandung 75 % - 80% fragmen yang berukuran gravel dan sisanya berkisar 20 - 25 % berukuran sand dan mud. Dengan besarnya perbandingan antara mud dan sand adalah 1 ( mud ) : 9 ( sand )
Dari segi tekstur Sandy conglomerate memiliki pemilahan yang buruk hal ini ditunjukkan dengan terdapanya fragmen yang ukurannya berbeda beda terkompaksi menjadi satu dalam batuan sandy conglomerat, memiliki kebundaran yang baik yang merupakan ciri batuan sedimen tipe konglomerat, dan memiliki kemas yang terbuka. Tekstur dari sandy konglomerat adalah unstratified.

DAFTAR REFERENSI :

** diakses di indralya pada hari rabu, 12 Desember 2012, jam 20.00 wib.
Slide-slide dari mata kuliah mineralogy dan petrologi dari Bapak Budhi Kuswan Susilo
 

Share it